Pekerja Magang Akan Diberi upah Minimum

DPRD Provinsi Bali kembali melanjutkan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Tentang Penyelenggaraan Ketenagakerjaan, di Gedung DPRD Bali. Pembahasan kali ini dihadiri stakeholder terkait, termasuk kalangan pengusaha. Salah satu poin yang dibahas mendalam kali ini adalah soal posisi dan hak pekerja magang. Selama ini, tenaga magang sering tidak mendapat hak hadir perusahaan. Masalah perlindunganpun, tidak didapatkan oleh pekerja magang. Kami berterimakasih, karena dari pengusaha memang pekerja magang kurang terlindungi haknya. Padahal pekerjaan mereka sama dengan pekerja tetap, bekerja 25 hari, jumlah jam juga sama, kata Koordinator Pembahasan Ranperda Penyelenggaraan Ketenagakerjaan DPRD Provinsi Bali I Nyoman Parta.

Atas dasar itu, menurut Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali ini, dalam Ranperda Penyelenggaraan Ketenagakerjaan diatur bahwa pekerja magang diberikan upah minimum. Lama masa magang juga diatur, maksimal satu tahun. Jam kerja, hari kerja, jenis kerja mereka sama saja dengan pekerja tetap. Tetapi para pekerja magang ini justru tidak mendapatkan jasa pelayanan. Karena itu dalam Ranperda ini, kita atur pekerja magang dapat jasa pelayanan. Besarnya 20 persen dari pelayanan yang didapat karyawan tetap. Sama seperti pekerja magang, pekerja kontrak juga mendapatkan perhatian dalam Ranperda Penyelenggaraan Ketenagakerjaan. Fakta selama ini, banyak perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan undang-undang terkait tenaga kontrak. Masa kontrak yang seharusnya hanya maksimal 3 tahun, justru ada yang kontrak hing 6-7 tahun dan tidak diangkat menjadi pekerja tetap. Dalam Ranperda ini, kita atur maksimal kontrak itu 3 tahun. Setelah 3 tahun, perusahaan wajib mengangkat menjadi karywan tetap. Selama ini, banyak perusahaan di Bali yang memperlakukan status kontrak untuk pekrjanya hngga 6-7 tahun. Ini tidak boleh lagi terjadi ke depan.

Masalah Uji Kompotensi Pekerja juga mendapatkan perhatian serius dalam Ranperda Penyelenggaraan Ketenagakerjaan. Dalam Ranperda ini bahkan diatur bahwa pemerintah diwajibkan mengalokasikan dana dalam melakukan Uji Kompotensi Pekerja di Bali. Banyak pekerja kita di Bali ini yang memiliki sertifikat kompotensi Kendalanya, minim lembaga yang selenggarakan Uji Kompotensi. Selain itu, biaya Uji Kompotensi juga antara Rp 500 ribu – Rp 1 juta. Karena itu, pemerintah akan memfasilitasi pendanaan, sehingga makin cepat pekerja Bali mendapatkan sertifikat kompotensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya